div style="position: fixed; bottom: 0px; left: 10px;width:110px;height:160px;">
Widget Animasi

Rabu, 29 Januari 2020

Mengenal Seblang Olehsari, Tarian Mistis Persembahan Gadis Banyuwangi


Penari Seblang Olehsari, Banyuwangi
Seblang Olesari diadakan di Desa Olehsari, Kecamatan Glagah, Banyuwangi. Disebut mistis karena tarian tersebut telah berusia ratusan tahun dan penari harus kerasukan saat mempersembahkan gerakannya.Penari dipilih oleh para tetua desa. Ia harus memiliki garis keturunan dengan penari Seblang pertama dan belum menikah. Pada 2018 ini, ritual dimulai pada 18 Juni hingga 24 Juni mendatang.“Hasilnya tergantung dari petunjuk roh leluhur yang merasuki tubuh tetua adat. Tahun ini yang terpilih Susi Susanti. Dia remaja berusia 18 tahun,” kata Ketua Adat Desa Olehsari, Ansori, dikutip dari keterangan resmi yang diterima kumparanTRAVEL.

Ritual sakral tersebut dianggap dapat membersihkan desa. Sebagian besar penonton penasaran dengan sosok penari Seblang terpilih.Pada hari pertama pelaksanaan, sang penari yang didampingi keluarga dan para tokoh adat berjalan dari rumah menuju pentas yang ada di jantung desa. Tubuhnya telah dilumuri lulur berwarna kuning dan berbalut kemben sederhana.Kedatangan sang penari diiringi lantunan gending Layar Kumendung, kemenyan yang dibakar, dan nampan berisi mahkota Seblang. Jika nampan tersebut jatuh ke tanah, pertanda raga penari telah berganti jiwa.Keramaian pada ritual Seblang Olehsari
Penari yang telah kerasukan akan melempar selendang ke arah penonton. Penonton yang terkena selendang wajib naik ke pentas dan menari bersama Seblang. Siapa yang menolak, dalam hitungan tak lebih dari satu menit akan tak sadarkan diri karena kerasukan.Tarian itu berlangsung sekitar 3 jam. Sambil menari, sang gadis juga menjual kembang dermo yang ditancapkan di bilah bambu. Kembang dermo adalah simbol harapan warga Olehsari. Meminum rendaman bunga itu dipercaya dapat melancarkan rezeki, jodoh, serta keselamatan.
Menpar Arief Yahya hadiri ritual Seblang OlehsariMenteri Arief Yahya yang hadir dalam ritual Seblang Olehsari pada Senin (18/6) lalu ikut memborong 100 kembang dermo dalam ritual sakral tersebut. Ia juga mengapresiasi Seblang Olehsari berhasil dikemas kreatif, sehingga dapat menjadi event pariwisata yang menarik turis domestik dan mancanegara.“Budaya itu makin dilestarikan makin mensejahterakan. Saya ingin seni dan budaya Banyuwangi terus eksis dan mendapatkan panggung untuk bisa ditampilkan ke khalayak luas”, papar Arief. TravelHasil gambar untuk seblang olehsariHasil gambar untuk seblang olehsari

ARTI NAMA WALI SONGO

Walisongo
Nama walisongo masih terkenang hingga saat ini di kalangan masyarakat luas. Julukan walisongo ini diberikan kepada 9 orang wali yang berjasa besar dalam penyebaran agama Islam di Indonesia pada zaman dahulu.  Wali songo terdiri dari dua kata yaitu wali dan songo, yang artinya wali adalah wakil dan songo adalah sembilan.
Menurut agama Islam adanya istilah waliyullah atau wali Allah mempunyai makna yang dekat dengan kekasih Allah. Oleh karena itu, secara bahasanya arti wali songo adalah sembilan wali Allah. Sembilan orang yang termasuk dalam wali songo dijuluki sebagai sunan yang berjasa dalam menyebarkan ajaran agama Islam di Indonesia khususnya di tanah Jawa.

KAROMAH DAN KESAKTIAN SALAH SATU WALI SONGO

Walisongo
Setiap wali memiliki gaya dan cara yang unik untuk memikat hati para masyarakat, bangsawan, musuh dan lain sebagainya untuk memeluk Islam tanpa adanya paksaan sama sekali. Seperti halnya seorang Brahmana yang ingin menantang dengan mengadu keilmuannya dengan sunan Bonang. Namun saat di tengah perjalanan kapal yang di naiki oleh Brahmana dan muridnya tenggelam.
Hingga akhirnya sang Brahmana terdampar di pesisir laut pantai Tuban. Ketika mereka sadar ada seorang yang memakai jubah putih berjalan dan mendekatinya itu menancapkan tongkatnya, dan beberapa menit kemudian beliau mencabut tongkatnya tersebut kemudian keluar air dan membawa buku-buku Brahmana yang tenggelam.
Sementara itu, murid-murid sang Brahmana merasa kehausan. Hingga akhirnya murid-murid tersebut memandang air jernih yang terpancar tersebut untuk meminumnya, namun sang Brahmana khawatir air tersebut memabukkan, lalu yang terjadi adalah air tersebut sangat segar dan kemudian sang Brahmana ikut meminumnya.
Berbagai kejadian tersebut, hingga akhirnya sang Brahmana dan muridnya masuk Islam tanpa paksaan dengan sendirinya. Dan mereka menjadi murid sunan Bonang.

PENGARUH WALI SONGO DALAM BUDAYA NUSANTARA

Walisongo
Walisongo
Para walisongo tidak hidup persis secara bersamaan, namun hubungan mereka layaknya saudara, teman, guru dan murid, Maulana Malik Ibrahim adalah yang tertua, sunan Ampel merupakan putra dari Maulana Malik Ibrahim, sunan Giri yang juga merupakan keponakan dari Maulana Malik Ibrahim dan sepupu dengan sunan Ampel.
Sunan Bonang dan sunan Derajat merupakan putra dari sunan Ampel, sunan Kalijaga merupakan murid sekaligus teman dari sunan Bonang. Sunan Muria merupakan putra dan sunan Kalijaga, sunan Kudus merupakan murid dari sunan Kalijaga, dan sunan Gunung Jati merupakan sahabat dari para sunan lainnya, kecuali Maulana Malik Ibrahim karena lebih dahulu meninggal.
Mereka semua merupakan para pembaharu masyarakat pada masanya, mereka mengenalkan berbagai bentuk peradaban baru seperti halnya bercocok tanam, berdagang, kebudayaan, kesenian, kesehatan, kemasyarakatan hingga pemerintahan, meski demikian sebelum Islam masuk ke bumi Nusantara sudah banyak suku, bangsa, organisasi, sosial budaya, ekonomi yang berkembang.
Era Wali Songo merupakan era berakhirnya kerajaan Hindu-Budha dalam budaya Nusantara di gantikan dengan kebudayaan Islam. Saat itulah peranan walisongo sangat penting dalam menyebarluaskan Islam di tanah Jawa, beberapa metode yang di gunakan walisong adalah akulturasi Islam dengan adanya budaya-budaya lokal Nusantara saat itu.

PERAN WALISONGO DALAM MENYEBARLUASKAN AJARAN AGAMA ISLAM

Walisongo
Beberapa peran walisongo dalam menyebarkan ajaran agama Islam di antaranya adalah sebagai pelopor penyebar luasan agama Islam kepada masyarakat yang belum banyak mengenal ajaran agama Islam di daerahnya masing-masing, sebagai pejuang yang gigih dalam membela dan mengembangkan agama Islam di masa hidupnya.
Sebagai orang yang ahli dalam bidang agama Islam, sebagai pemimimpin agama Islam di setiap daerah yang di pimpinnya, sebagai guru agama Islam yang gigih mengajarkan agama Islam kepada setiap muridnya, sebagai kyai yang menguasai ajaran Islam secara luas dan sebagai tokoh masyarakat yang disegani di masa hidupnya.

WALISONGO : Biografi, Nama Asli, Kisah, Sejarah, Letak Makam

WALI SONGO DAN PERANANNYA MENYEBARKAN AGAMA ISLAM DI TANAH JAWA

Walisongo

1. SUNAN GRESIK – WALISONGO

Walisongo

Maulana Malik Ibrahim di lahirkan di Campa (Kamboja), ayahnya bernama Barakat Zainul Alam yaitu seorang ulama besar di  Maghrib.  Maulan Malik Ibrahim ini di sebut sebagai Sunan Gresik atau Syakh Maghribi atau Makhdum Ibrahim al-Samarqandi, dan orang jawa biasa menyebutnya sebagai Asmaraqandi.
Maulana Malik Ibrahim merupakan orang pertama yang menyebar luaskan agama Islam di tanah Jawa, dan merupakan wali senior di antara para walisongo yang lainnya. Dengan di temani oleh beberapa sahabatnya beliau datang pertama kali di Desa Sembolo yang sekarang adalah Desa Laren kecamatan Manyar, 9 kilometer dari arah utara kota Gresik.
Sebelum masuk ke tanah Jawa, Maulana Malik Ibrahim bermukim di Champa (Dalam legenda disebut sebagai negeri Chermain atau Cermin) selama 13 tahun. Beliau menikahi putri raja yang memberinya dua putra, yaitu Raden Rahmat (Sunan Ampel) dan Rasyid Ali Murtadha (Raden Santri). Setelah dirasa cukup berdakwah di negeri tersebut beliau hijrah di pulau Jawa yaitu di Gresik.
Setelah mendarat di kota Gresik, beliau memilih tempat  di sebuah Desa bernama Laren. Di desa itulah tepatnya pada tahun 801 H/ 1329 M beliau menjalankan misi dakwah ajaran agama Islam. Selain itu, beliau juga membuka toko di Desa Romo (3 km sebelah barat kota Gresik). Dengan memperkenalkan barang-barang bawaanya.
Islamisasi Jawa, aktivitas pertama yang di lakukan oleh Maulan Malik Ibrahim adalah berdagang dengan membuka warung yang menyediakan kebutuhan pokok dengan harga murah. Selain itu secara khusus beliau menawarkan diri sebagai tabib untuk mengobati masyarakat secara gratis. Maulan Malik Ibarahim saat itu juga mengajarkan tentang bercocok tanam.
Beliau merangkul masyarakat bawah yang di sisihkan oleh komunitas Hindu. Pendekatan yang di lakukan adalah dengan pergaulan dan berdagang. Dengan adanya budi bahasa yang ramah senantiasa di perlihatkannya dalam pergaulan sehari-hari, beliau tidak menantang kepercayaan penduduk asli, melainkan hanya memperlihatkan keindahan dan kebaikan agama Islam.
Berkat keramah tamahannya banyak masyarakat yang tertarik untuk masuk dalam agama Islam. Setelah cukup mapan Maulana Malik Ibrahim melakukan kunjungan ke Ibu kota Majapahit di Trowulan, meskipun raja tidak masuk Islam, namun raja menerimanya dengan baik, bahkan memberikan sebidang tanah di pinggiran kota Gresik yang sekarang di sebut sebagai Gapura.

2. SUNAN AMPEL – WALISONGO

Walisongo

Nama asli dari sunan Ampel adalah Raden
. Pada umumnya sunan Ampel di anggap sebagai wali sesepuh oleh para wali lainnya. Pesantrennya berada di Ampel Denta Surabaya, juga merupakan salah satu penyebaran ajaran agama Islam tertua di Jawa. Beliau menikah dengan Dewi Condrowati yang bergelar Nyai Ageng Manila.
Dewi Condrowati ini merupakan putri dari adipati Tuban yaitu Arya Teja, selain itu beliau juga menikah dengan Dewi Karimah binti Ki Kembang Kuning. Dari pernikahannya dengan Dewi Condrowati berputra-putri Raden Makhdum Ibrahim (Sunan Bonang), Siti Syari’ah, Raden Qasim (Sunan Derajat), Sunan Sedayu, Siti Mutma’innah, dan Siti Hafsah.
Sedangkan pernikahannya dengan Dewi Karimah berputra-putri Dewi Murtasiyah yang juga merupakan istri dari Sunan Giri, Dewi Murtasimah (Dewi Asyiqah) yang juga merupakan istri dari Raden Fatah, Raden Husamuddin (Sunan Lamongan), Raden Zaenal Abidin (Sunan Demak), Pangeran Tumapel dan Raden Faqih (Sunan Ampel 2).
Sunan Ampel datang ke pulau Jawa pada tahun 1443,  untuk menemui bibinya Dwarawati, ia merupakan seorang putri Champa yang menikah dengan raja Majapahit yang bernama Prabu Kertawijaya. Dakwah sunan Ampel yang di kenalkan kepada masyarakatnya di kenal dengan sebutan Moh Limo.
Moh Limo yang di maksud adalah Moh Mabok (tidak mau minum minuman keras), Moh Main (tidak mau judi, togel, taruhan), Moh Madon (tidak mau zina, lesbian, homo), Moh Madat (tidak mau mencuri), Moh Maling (tidak mau mencuri, korupsi, dan lain sebagainya). Dakwah Sunan Ampel ini bertujuan untuk memperbaiki kerusakan akhlaq di tengah masyarakat saat itu.
Pada tahun 1479 M, Sunan Ampel mendirikan masjid Agung Demak, dan yang menjadi penerus untuk melanjutkan dakwahnya di kota Demak adalah Raden Zaenal Abidin yang di kenal sebagai sunan Demak, Raden Zaenal Abidin merupakan putra sunan Ampel dari Dewi Karimah.
Nama asli dari sunan Ampel adalah Raden Rahmat. Pada umumnya sunan Ampel di anggap sebagai wali sesepuh oleh para wali lainnya. Pesantrennya berada di Ampel Denta Surabaya, juga merupakan salah satu penyebaran ajaran agama Islam tertua di Jawa. Beliau menikah dengan Dewi Condrowati yang bergelar Nyai Ageng Manila.
Dewi Condrowati ini merupakan putri dari adipati Tuban yaitu Arya Teja, selain itu beliau juga menikah dengan Dewi Karimah binti Ki Kembang Kuning. Dari pernikahannya dengan Dewi Condrowati berputra-putri Raden Makhdum Ibrahim (Sunan Bonang), Siti Syari’ah, Raden Qasim (Sunan Derajat), Sunan Sedayu, Siti Mutma’innah, dan Siti Hafsah.
Sedangkan pernikahannya dengan Dewi Karimah berputra-putri Dewi Murtasiyah yang juga merupakan istri dari Sunan Giri, Dewi Murtasimah (Dewi Asyiqah) yang juga merupakan istri dari Raden Fatah, Raden Husamuddin (Sunan Lamongan), Raden Zaenal Abidin (Sunan Demak), Pangeran Tumapel dan Raden Faqih (Sunan Ampel 2).
Sunan Ampel datang ke pulau Jawa pada tahun 1443,  untuk menemui bibinya Dwarawati, ia merupakan seorang putri Champa yang menikah dengan raja Majapahit yang bernama Prabu Kertawijaya. Dakwah sunan Ampel yang di kenalkan kepada masyarakatnya di kenal dengan sebutan Moh Limo.
Moh Limo yang di maksud adalah Moh Mabok (tidak mau minum minuman keras), Moh Main (tidak mau judi, togel, taruhan), Moh Madon (tidak mau zina, lesbian, homo), Moh Madat (tidak mau mencuri), Moh Maling (tidak mau mencuri, korupsi, dan lain sebagainya). Dakwah Sunan Ampel ini bertujuan untuk memperbaiki kerusakan akhlaq di tengah masyarakat saat itu.Pada tahun 1479 M, Sunan Ampel mendirikan masjid Agung Demak, dan yang menjadi penerus untuk melanjutkan dakwahnya di kota Demak adalah Raden Zaenal Abidin yang di kenal sebagai sunan Demak, Raden Zaenal Abidin merupakan putra sunan Ampel dari Dewi Karimah.

3. SUNAN BONANG – WALISONGO

Walisongo

Sunan Bonang di lahirkan pada tahun 1465 dengan nama asli yaitu Raden Maulana Makhdum Ibrahim, beliau putra sunan Ampel dengan Nyai Ageng Manila. Bonang merupakan sebuah nama Desa di kabupaten Rembang.  Nama sunan Bonang ada yang menyebutnya dari  Bong Ang yang sesuai dengan marga Bong seperti nama ayahnya Bong Swi Hoo alias Sunan Ampel.
Setelah selesai menimba ilmu, beliau kembali lagi ke Tuban  dan kemudian mendirikan pesantren di tanah kelahiran ibunya tersebut. Saat itu masyarakat Tuban sangat menyukai hiburan, oleh karena itu cara berdakwah sunan Bonang salah satunya adalah dengan membuat alat musik tradisional yaitu gamelan untuk menarik hati masyarakat agar tertarik untuk belajar agama Islam.
Selain menjadikan pesantren di Tuban sebagai basis wilayah dakwah, beliau juga menyebarkan Islam dengan cara berkeliling. Sunan Bonang selain menyebarkan ajaran agama Islam dengan gamelan, beliau juga menggunakan cara dakwah dengan adanya karya sastra yang berupa carangan paweyangan dan suluk serta tembang tamsil.
Sunan Bonang berdakwah dengan menggunakan kesenian alat musik tradisional adalah untuk menarik hati dan simpatik masyarakat. Menurut beliau cara berdakwah dengan alat musik tradisional merupakan cara yang tepat, sehingga beliau juga mempelajari kesenian Jawa salah satunya adalah Bonang (alat musik yang di pukul menimbulkan suara merdu).
Setiap kali sunan Bonang membunyikan alat musik tersebut banyak masyarakat berdatangan untuk mendengar dan menyaksikan, setelah masyarakat tertarik hati dan simpati kemudian beliau menyisipkan ajaran agama Islam kepada masyarakat.
Dengan keahlian seni dan sastranya, sunan Bonang mengajarkan dan menyebar luaskan ajaran Islam dengan lantunan tembang-tembang yang mengandung nilai-nilai ke Islaman, sehingga tanpa terasa penduduk sudah mempelajari ajaran Islam dengan senang hati dan tanpa paksaan. Salah satu tembang dari  sunan Bonang  yang fenomenal adalah tembang “Tombo Ati”.

4. SUNAN DERAJAT – WALISONGO


Walisongo

Sunan Derajat mempunyai nama kecil syarifuddin atau Raden Qasim yang juga merupakan putra bungsu sunan Ampel dengan Nyai Ageng Manila, dan beliau juga merupakan saudara dari sunan Bonang. Sunan Derajat di kenal dengan kecerdasannya, beliau menyebar luaskan ajaran agama Islam di Desa Paciran Lamongan.
Dakwah yang di lakukan oleh Sunan Derajat pada mulanya di lakukan atas perintah ayahnya, yaitu berdakwah di pesisir pantai Gresik, hingga akhirnya beliau menetap di Lamongan. Untuk menempati tempat tersebut Raden Qasim di antar sunan Bonang dengan tujuan meminta izin sultan Demak untuk menempati wilayah tersebut.
Sultan Demak tidak hanya mengizinkannya untuk tinggal namun memberikan tanahnya pada tahun 1486 H. Sunan Derajat di kenal sebagai penyebar agama Islam yang memiliki jiwa sosial tinggi dan sangat memperhatikan nasib kaum fakir miskin, selain itu beliau mengutamakan pada kesejahteraan sosial masyarakat.
Setelah memberikan perhatian penuh, barulah kemudian beliau memberikan pemahaman ajaran agama Islam yang berkaitan tentang adanya empati dan etos kerja yang berupa kedermawanan, pengentasan kemiskinan, usaha menciptakan kemakmuran, solidaritas serta gotong royong.  Cara dakwah yang beliau lakukan banyak menggunakan ajaran luhur dan tradisional lokal.

5. SUNAN KUDUS – WALISONGO

Walisongo

Sunan Kudus sejatinya bukanlah merupakan penduduk asli Kudus, beliau berasal dan lahir dari Quds negeri palestina, yang kemudian bersama kakek dan ayahnya untuk hijrah ke tanah Jawa. Dalam cerita lain sunan Kudus merupakan pendatang dari daerah Jipang Panolan yang merupakan daerah di sebelah utara Blora.
Sunan Kudus juga merupakan senopati hebat dari kerjaan Demak, ketika beliau menjabat sebagai senopati kerajaan Majapahit di taklukannya. Kesuksesan mengalahkan majapahit membuat posisi Ja’far Shadiq semakin kuat, namun kemudian ia meninggalkan Demak karena ingin hidup merdeka dan mendedikasikan seluruh hidupnya untuk menyebar luaskan agama Islam.
Dalam menyebarkan ajaran agama Islam sunan Kudus memang banyak berguru dan belajar ilmu agama kepada sunan Kalijaga, sehingga metode dakwah sunan Kudus tidak jauh beda dengan sunan Kali Jaga, yang menekankan pada budaya kearifan lokal  dengan mengapresiasi budaya masyarakat setempat.
Sosok sunan Kudus di kenal karena telah memberikan pondasi pengajaran keagamaan dan kebudayaan yang toleran. Beberapa nilai toleransi yang di perlihatkan sunan Kudus kepada masyarakatnya adalah tidak boleh menyembelih sapi kepada para pengikutnya, karena saat itu sapi di anggap sebagai hewan suci. Sehingga, ajaran agama Islam dari sunan Kudus ini menekankan pada toleransi beragama.

6. SUNAN GIRI – WALISONGO

Sunan Giri merupakan putra dari Maulana Ishaq dengan Dewi Sekardadu yaitu putri dari Menak Sembuyu penguasa wilayah Balambangan pada masa akhir kerajaan Majaphit. Namun, sayang kelahirannya di anggap sebagai sebuah kutukan oleh ayahnya Dewi Sekardadu, sehingga, ia di paksa oleh ayahnya untuk membuang anaknya dengan menghanyutkannya ke laut.
Setelah Cukup Dewasa, Joko Samudra di bawa ibu angkatnya ke Ampel Denta untuk belajar agama kepada Sunan Ampel. Tak selang beberapa lama mengajarnya sunan Ampel mengetahui Identitas dari Sunan Giri tersebut, dan kemudian Sunan Ampel mengirimkan sunan Giri bersama juga dengan sunan Bonang untuk mendalami agama Islam di wilayah Pasai.
Cara Dakwah yang di lakukan oleh Sunan Giri adalah dengan menciptakan unsur lagu dan permainan dengan memasukkan beberapa unsur-unsur agamis, hal ini beliau lakukan untuk mendekatkan ajaran agama Islam khususnya untuk anak-anak.
Sunan Giri menciptakan tembang dolanan yang di kenal dengan jelungan bukanlah sekadar nyanyian dan tertawa belaka, namun dari semua itu terdapat pelajaran yang luar biasa terkait dengan ketauhidan.

7. SUNAN KALIJAGA – WALISONGO

Walisongo

Raden Said merupakan seseorang yang peduli dan dekat terhadap rakyat jelata, hal ini dibuktikan ketika beliau membela rakyat jelata di masa sulit. Saat itu pemerintah sangat membutuhkan dana besar untuk mengatasi roda pemerintahan, sehingga rakyat jelata mau tidak mau harus membayar pajak yang tinggi untuk hal tersebut.
Saat itulah, sunan Kalijaga berpikir harus membantu rakyat jelata. Namun, tanpa berpikir panjang Raden Said melakukan perbuatan tidak terpuji demi menolong rakyat jelata. Beliau mencuri hasil bumi yang tersimpan di gudang ayahnya. Hasil bumi tersebut merupakan hasil upeti rakyat jelata yang akan di setorkan kepada pemerintahan pusat.

8. SUNAN MURIA – WALISONGO

Walisongo

Nama Sunan Muria di ambil dari tempat tinggal terakhirnya yaitu di lereng Gunung Muria, yakni 18 kilometer ke utara kota Kudus. Sunan Muria mempunyai peran penting dalam menyebarkan ajaran agama Islam di sekitar Gunung Muria. Dalam menyebarkan agama Islam beliau meniru cara ayahnya, yaitu menyebarkan ajaran agama dengan halus.
Namun, berbeda dengan ayahnya, dalam menyebarkan dakwahnya Raden Umar Sahid (Sunan Muria) lebih senang berdakwah di daerah terpencil dan jauh dari pusat kota. Tempat tinggal beliau berada di puncak Gunung Muria yang bernama Colo, di tempat tersebut beliau berinteraksi dengan rakyat jelata, dan mengajarkan cara bercocok tanam, berdagang serta melaut.
Sunan Muria dalam menyebarkan agama Islam  tetap  mempertahankan kesenian gamelan serta wayang sebagai alat dakwah. Beliau menciptakan beberapa tembang untuk mengamalkan ajaran Islam. Dengan cara inilah sunan Muria di kenal sebagai sunan yang suka berdakwah topo ngeli. Sunan Muria juga di kenal sebagai pribadi yang mampu memecahkan berbagai macam masalah.
Dengan gayanya yang moderat dalam berdakwah ini mengikuti jejak ayahnya menyelusup lewat berbagi  tradisi kebudayaan Jawa. Seperti halnya adanya adat kenduri pada hari tertentu setelah kematian yang kemudian di ganti dengan nelung dino sampai nyewu yang tak di haramkannya,  Tradisi membakar menyan atau sesaji di ganti dengan berdo’a dan bersholawat.

9. SUNAN GUNUNG JATI – WALISONGO

Walisongo  
Sunan Gunung Jati memiliki nama asli Syarif Hidayatullah. Di usianya yang menginjak 20 tahun sunan Gunung Jati telah di tinggal oleh ayahnya. Setelah di tinggal ayahnya beliau di daulat untuk menjadi Raja Mesir untuk menggantikan ayahnya, namun beliau menolaknya dan memilih untuk menyebarkan ajaran agama Islam ke tanah Jawa bersama ibunya.
Sebelum Sunan Gunung Jati dan ibunya Syaifah Muda’imah datang ke Jawa Barat tahun 1475 Masehi, mereka terlebih dahulu singgah di Gujarat dan Pasai, guna untuk memperdalam ilmu agamanya. Kedatangannya sambut gembira oleh Pangeran Cakrabuana beserta keluarganya.
Dalam menyebarkan Islam, Sunan Gunung Jati tidak sendiri, beliau di bantu oleh para wali lainnya. mereka biasanya bermusyawarah di masjid Demak. Karena pergaulannya dengan para wali dan sultan Demak, menjadikan sunan Gunung Jati mendirikan Kesultanan Pakungwati, yang kemudian ia memprokamirkan dirinya sebagai raja dan mendapat gelar sultan.
Dengan adanya kesultanan, Cirebon tidak lagi mengirimkan upeti kepada pajajaran. Kesultanan pakungwati semakin besar dengan bergabungnya perwira dan prajurit pilihan, terlebih lagi adanya perluasan pelabuhan Muara Jati, yang membuat perdagangan semakin pesat terutama dengan Negara China.
Jalinan Cirebon dan China semakin erat, dalam dakwahnya tersebut beliau mengajarkan ilmu shalat kepada rakyat China, dengan memberitahukan bahwa setiap melakukan gerakan sholat merupakan terapi pijat ringan atau biasa yang disebut dengan akupuntur, ilmu pengobatan tersebut di perolah saat beliau mengembara ilmu di China.


Rabu, 22 Januari 2020

Gandrung Banyuwangi

Berkas:COLLECTIE TROPENMUSEUM Studioportret van een gandrung danseres TMnr 10026833.jpg

Pertunjukan Gandrung Banyuwangi[sunting | sunting sumber]


Penari Gandrung bersama gamelannya (foto diambil tahun 1910-1930)
Tarian Gandrung Banyuwangi pada awalnya dibawakan sebagai perwujudan rasa syukur masyarakat pasca dilakukannya panen.[1]. Kesenian ini masih satu genre dengan seperti Ketuk Tilu di Jawa BaratTayub di Jawa Tengah dan Jawa Timur bagian barat, Lengger di wilayah Banyumas dan Joged Bumbung di Bali, dengan melibatkan seorang wanita penari profesional yang menari bersama-sama tamu (terutama pria) dengan iringan musik (gamelan).[butuh rujukan]
Gandrung merupakan seni pertunjukan yang disajikan dengan iringan musik khas yaitu Gamelan Osing. Tarian dilakukan dalam bentuk berpasangan antara perempuan (penari gandrung) dan laki-laki (pemaju) yang dikenal dengan "paju"[2]
Bentuk kesenian yang didominasi tarian dengan orkestrasi khas ini populer di wilayah Banyuwangi yang terletak di ujung timur Pulau Jawa dan telah menjadi ciri khas dari wilayah tersebut, hingga tak salah jika Banyuwangi selalu diidentikkan dengan gandrung. Kenyataannya, Banyuwangi sering dijuluki sebagai Kota Gandrung dan patung penari gandrung dapat dijumpai di berbagai sudut wilayah Banyuwangi.
Gandrung sering dipentaskan pada berbagai acara, seperti perkawinan, pethik laut, khitanan, tujuh belasan dan acara-acara resmi maupun tak resmi lainnya, baik di Banyuwangi maupun wilayah lainnya. Biasanya, pertunjukan gandrung dimulai sejak sekitar pukul 21.00 dan berakhir hingga menjelang subuh (sekitar pukul 04.00).

Sejarah[sunting | sunting sumber]

Kesenian gandrung Banyuwangi muncul bersamaan dengan dibabatnya hutan “Tirtagondo” (Tirta Arum) untuk membangun ibu kota Balambangan pengganti Pangpang (Ulu Pangpang) atas prakarsa bupati pertama Banyuwangi, Mas Alit yang dilantik pada tanggal 2 Februari 1774 di Ulu Pangpang. Demikian antara lain yang diceritakan oleh para sesepuh Banyuwangi tempo dulu.
Mengenai asal dari kesenian gandrung, Joh Scholte dalam makalahnya antara lain menulis sebagai berikut: Asalnya lelaki jejaka bernama MARSAN itu keliling ke desa-desa bersama pemain musik yang memainkan kendang dan terbang dan sebagai penghargaan mereka diberi hadiah berupa beras yang mereka membawanya di dalam sebuah kantong. (Gandroeng Van Banyuwangi 1926, Bab “Gandrung Lelaki”).
Apa yang ditulis oleh Joh Scholte tersebut, tak jauh berbeda dengan cerita tutur yang disampaikan secara turun-temurun, bahwa gandrung semula dilakukan oleh kaum lelaki bernama marsan (penari gandrung pertama) yang membawa peralatan musik kendang dan beberapa rebana (terbang). Mereka setiap hari berkeliling mendatangi tempat-tempat yang dihuni oleh sisa-sisa rakyat Belambangan sebelah timur (dewasa ini meliputi Kab. Banyuwangi) yang jumlahnya konon tinggal sekitar lima ribu jiwa, akibat dari peperangan yaitu penyerbuan Kompeni yang dibantu oleh Mataram dan Madura pada tahun 1767 untuk merebut Belambangan dari kekuasaan Mangwi, hingga berakirnya perang Bayu yang sadis, keji dan brutal dimenangkan oleh Kompeni pada tanggal 11 Oktober 1772. Konon jumlah rakyat yang tewas, melarikan diri, tertawan, hilang tak tentu rimbanya atau di selong (di buang) oleh Kompeni lebih dari enam puluh ribu jiwa. Sedang sisanya yang tinggal sekitar lima ribu jiwa hidup telantar dengan keadaannya yang sangat memprihatinkan terpencar cerai-berai di desa-desa, di pedalaman, bahkan banyak yang belindung di hutan-hutan, terdiri dari para orang tua, para janda serta anak-anak yang tak lagi punya orang tua.(telah yatim piyatu) dan selain itu ada juga yang melarikan diri menyingkir ke negeri lain. Seperti ke Bali, Mataram, Madura dan lain sebagainya.
Setelah usai pertunjukan gandrung menerima semacam imbalan dari penduduk yang mampu berupa beras atau hasil bumi lainnya dan sebagainya. Sebenarnya yang nampak sebagai imbalan tersebut, merupakan sumbangan yang nantinya dibagi-bagikan kepada mereka yang keadaannya sangat memprihatinkan dipengungsian dan sangat memerlukan bantuan, baik mereka yang mengungsi di pedesaan, di pedalaman, atau yang bertahan hidup dihutan-hutan dengan segala penderitaannya walau peperang telah usai.
Mengenai mereka yang bersikeras hidup di hutan dengan keadaannya yang memprihatinkan tersebut, disinggung oleh C. Lekerkerker yang menulis beberapa kejadian setelah Bayu dapat dihancurkan oleh gempuran Kompeni pada tanggal 11 Oktober 1772, antara lain sebagai berikut; Pada tanggal 7 Nopember 1772, sebanyak 2505 orang lelaki dan perempuan telah menyerahkan diri ke Kompeni, Van Wikkerman mengatakan bahwa Schophoff telah menyuruh menenggelamkan tawanan laki-laki yang dituduh mengobarkan amuk dan yang telah memakan dagingnya dari mayatnya Van Schaar. Juga dikatakan bahwa orang-orang Madura telah merebut para wanita dan anak-anak sebagai hasil perang. Sebagian dari mereka yang berhasil melarikan diri kedalam hutan telah meninggal karena kesengsaraan yang dialami mereka. Sehingga udara yang disebabkan mayat-mayat yang membusuk sampai jarak yang jauh. Yang lainnya menetap dihutan-hutan seperti; Pucang Kerep, Kali Agung, Petang dan sebagainya. Dan mereka bersikap keras tetap tinggal dalam hutan dengan segala penderitaannya[3].
Berkat munculnya gandrung yang dimanfaatkan sebagai alat perjuang dan yang setiap saat acap kali mengadakan pagelaran dengan mendatangi tempat-tempat yang dihuni oleh sisa-sisa rakyat yang hidup bercerai-berai di pedesaan, di pedalaman dan bahkan sampai yang masih menetap di hutan-hutan dengan keadaannya yang memprihatinkan, kemudian mereka mau kembali kekampung halamannya semula untuk memulai membentuk kehidupan baru atau sebagaian dari mereka ikut membabat hutan Tirta Arum yang kemudian tinggal di ibu kota yang baru di bangun atas prakarsa Mas Alit. Setelah selesai ibu kota yang baru dibangun dikenal dengan nama Banyuwangi sesuai dengan konotasi dari nama hutan yang dibabad (Tirta-arum). Dari keterangan tersebut terlihat jelas bahwa tujuan kelahiran kesenian ini ialah menyelamatkan sisa-sisa rakyat yang telah dibantai habis-habisan oleh Kompeni dan membangun kembali bumi Belambangan sebelah timur yang telah hancur porak-poranda akibat serbuan Kompeni (yaitu yang dewasa ini meliputi Daerah Kabupaten Banyuwangi).
Gandrung wanita pertama yang dikenal dalam sejarah adalah gandrung Semi, seorang anak kecil yang waktu itu masih berusia sepuluh tahun pada tahun 1895. Menurut cerita yang dipercaya, waktu itu Semi menderita penyakit yang cukup parah. Segala cara sudah dilakukan hingga ke dukun, tetapi Semi tak juga kunjung sembuh. Sehingga ibu Semi (Mak Midhah) bernazar seperti “Kadhung sira waras, sun dhadekaken Seblang, kadhung sing yo sing” (Bila kamu sembuh, saya jadikan kamu Seblang, kalau tidak ya tidak jadi). Ternyata, akhirnya Semi sembuh dan dijadikan seblang sekaligus memulai babak baru dengan ditarikannya gandrung oleh wanita.
Menurut catatan sejarah, gandrung pertama kalinya ditarikan oleh para lelaki yang didandani seperti perempuan dan, menurut laporan Scholte (1927), instrumen utama yang mengiringi tarian gandrung lanang ini adalah kendang. Pada saat itu, biola telah digunakan. Namun, gandrung laki-laki ini lambat laun lenyap dari Banyuwangi sekitar tahun 1890an, yang diduga karena ajaran Islam melarang segala bentuk transvestisme atau berdandan seperti perempuan. Namun, tari gandrung laki-laki baru benar-benar lenyap pada tahun 1914, setelah kematian penari terakhirnya, yakni Marsan.
Menurut sejumlah sumber, kelahiran Gandrung ditujukan untuk menghibur para pembabat hutan, mengiringi upacara minta selamat, berkaitan dengan pembabatan hutan yang angker.[4]
Tradisi gandrung yang dilakukan Semi ini kemudian diikuti oleh adik-adik perempuannya dengan menggunakan nama depan Gandrung sebagai nama panggungnya. Kesenian ini kemudian terus berkembang di seantero Banyuwangi dan menjadi ikon khas setempat. Pada mulanya gandrung hanya boleh ditarikan oleh para keturunan penari gandrung sebelumnya, tetapi sejak tahun 1970-an mulai banyak gadis-gadis muda yang bukan keturunan gandrung yang mempelajari tarian ini dan menjadikannya sebagai sumber mata pencaharian di samping mempertahankan eksistensinya yang makin terdesak sejak akhir abad ke-20.